Kita sedang berlari, untuk kembali menemukan. :)

Pada akhirnya, kita sama-sama saling memunggungi satu sama lain.

Aku pada arahku, dan kamu pada arahmu.

Mungkin akulah yang terlihat paling egois,

Memaksakan kita untuk berhenti secara paksa.

Pada segala sesuatu yang sebenarnya masih ingin kita semogakan.

 

Maaf, aku mengajakmu berlari menjauhi kita.

Percayalah, ragaku masih bergetar saat ini setiap aku mengingatmu.

Percayalah, rinduku pun belum terbunuh hingga detik ini.

Aku memaksakan diri untuk kuat, tanpamu.

Meski harus berkali-kali tangisku pecah tanpa ampun.

 

Segalanya tentu tidak akan mudah untukmu, begitu  juga aku.

Aku tahu hatimu patah, tapi sebelum itu,

aku yang lebih dulu mematahkan hatiku sendiri.

Agar segalanya menjadi baik, dari sesuatu yang telah kita anggap baik.

 

Maaf, aku telah menjadi seseorang yang mengkhawatirkan keadaanmu namun memilih untuk diam.

Percayalah, segala yang kita lewati tidak mudah begitu saja aku tenggelamkan.

Aku masih akan mengemasnya dengan baik,

dengan caraku sendiri.

 

Kamu pasti telah mengerti alasanku.

Karena aku tidak ingin kita jatuh berlama-lama pada apa yang Allah tidak sukai.

Percayalah, jika kita meninggalkan sesuatu yang begitu kita cintai karena Allah, Allah pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik.

Boleh jadi, yang lebih baik itu seperti jatuh cinta kedua kalinya denganmu, di hadapan Penghulu. :’)

 

-Barney-

 

 

Advertisements

Sepi tidak selamanya menyedihkan.

-Ditulis ketika hujan pada awal Desember-

Terkadang, banyak hal yang tidak terduga sebagai tujuan ucapan terima kasih kita dalam kehidupan. Seperti halnya hujan yang menjadikan salah satu seorang perempuan kembali menulis setelah merenungkan banyak hal beberapa menit sebelumnya. Perempuan itu masih belum mengerti tentang keinginan apa yang akan ia tulis pada laman blognya. Terlalu banyak hal yang ingin di tulis, juga terlalu banyak hal yang ingin diceritakan.

Menurutmu, kesepian itu seperti apa?

Ketika telah menimang-nimang banyak pikiran yang berlarian di dalam kepala, saya menyadari satu hal bahwa sepi tidak melulu menyedihkan. Awalnya, saya begitu membenci hal-hal sepi. Saya selalu merasa kesepian, belakangan sebelum hari ini. Tidak jarang saya menangis dan mengeluhkan kesepian yang selalu memeluk diri saya tanpa enggan berpindah. Sepi sebenarnya tidak melulu tentang hati. Kesepian maksud saya disini adalah kesepian pada sebuah rumah. Boleh bercerita sedikit, tetapi bukan bermaksud untuk membagi kesedihan dengan yang lain. Sejak kepergian ibunda, rumah dalam pandangan kacamata saya berubah. Kami mulai pindah, dan tentunya harus melanjutkan kehidupan yang baru meski sebenarnya tidak ingin. Sejak saat itu, rumah yang pada awalnya selalu memberikan kehangatan kapanpun dibutuhkan menjadi hal yang dingin dan tampak asing.

Dan semakin menyedihkan ketika salah satu dari penghuni rumah yang sudah tidak lagi utuh juga harus pergi meninggalkan untuk menemui Sang Pencipta. Masih ingat tentang tulisan sebelum ini, yang mengatakan bahwa saya takut akan kehilangan-kehilangan yang lain? Dan ketakutan itu sebenarnya sudah pasti saya ketahui akan terjadi. Setelah ibunda saya pergi untuk selamanya, itu adalah kali pertama saya merasakan luka yang teramat dalam pada hidup saya. Saya berusaha berdiri, dan juga berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan luka dari kepergian beliau dan mencoba menyatukannya kembali meski saya mengerti luka ini tidak mungkin bisa sembuh seperti sebelumnya. Lalu, saya mencoba meyakinkan diri bahwa saya masih memiliki dua kekuatan untuk berjuang bersama-sama dalam memerangi kepedihan jika itu terjadi dalam hidup ini, yaitu Nenek dan Kakak perempuan saya. Saya mencoba melukis senyum pada awalnya, sampai akhirnya mampu menyunggingkan senyum yang sebenarnya.

Tetapi, ketika hidup senantiasa membahagiakanmu, kamu tidak akan mengerti tentang bagaimana caranya menjadi Ksatria dalam hidupmu sendiri. Itu mengapa setelahnya Tuhan juga mengambil salah satu dari dua kekuatan yang masih saya punya. Dia membawa pulang Nenek, dan meninggalkan saya bersama satu kekuatan yang masih saya miliki. Apakah saya marah? Apakah saya kecewa? Apakah saya merasakan luka sedalam-dalamnya? Kamu pasti mengerti jawabannya.

Saya sedih, tentu saja. Masih banyak harapan yang ingin saya wujudkan bersama mereka namun belum terpenuhi. Namun, saya mengerti bahwa bersedih tidak akan memberikan apa-apa. Untuk itu, saya mencoba merajut semua hal-hal baik dalam hidup saya, sesanggup yang saya bisa. Bahkan, ketika ini telah terjadi, kamu akan mengerti tentang memanjatkan doa yang tulus sebagai ucapan rindu kepada mereka yang telah meninggalkan dan menemui Tuhan lebih dulu. Kamu akan mengerti betapa teduhnya bercerita pada Tuhan dan tak henti-hentinya menitipkan mereka pada sisi terbaik-Nya. Jika sebelumnya bahkan kita lalai untuk mendoakan mereka dan menanyakan kabar mereka karena kesibukan yang kita miliki.

Berterimakasihlah, jika Tuhan masih memberikan sesuatu yang menurutmu menyakitkan. Karena dengan itu semua, kamu akan belajar bagaimana untuk menjadi seseorang yang sebenarnya hanya titipan-Nya di dalam dunia yang tidak abadi ini.

Tetaplah menjadi baik, kapanpun!

Tertanda, perempuan kacamata berusia 19 tahun, sebenarnya.

-Opi, panggilan masa kecil ibunda dan nenek-

 

Bercita-citalah menjadi baik, kapanpun!

“Udah pergantian tahun nih, mau berubah ah gak mau jadi yang dulu lagi.”

“Ntar aja berubahnya kalau udah tahun baru.”

“Selamat bulan baru, semoga jadi yang lebih baik.”

“Hi November, semoga segalanya lebih baik ya, lebih bahagia.”

Dan pengharapan-pengharapan lainnya di bulan yang baru.

Semua orang, siapapun itu bahkan termasuk saya pernah menuliskan atau berpikir tentang kalimat diatas. Mengharapkan sesuatu menjadi lebih baik pada tanggal baru ataupun tahun yang baru. Menuliskan resolusi, target hidup, dan harapan-harapan yang baik pada tahun yang akan dijalani selanjutnya. Kita selalu berharap untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya, dan itu pasti.

Tetapi, untuk menjadi seseorang yang baik dalam hidup tidak perlu menunggu waktu yang baru. Karena, setiap hari adalah sama, setiap hari adalah kesempatan untuk terus memperbaiki diri menjadi yang sebaik-baiknya.

Saya bahkan selalu menargetkan hidup ketika tahun baru telah tiba.

“Ih udah tahun baru nih, masa mau gini-gini aja. Masa mau males-malesan terus. Harus rajin nih, mesti semangat.”

Bahkan, saya juga selalu menulis bucketlist untuk tahun itu.

Tetapi, tulisan hanyalah sebuah tulisan jika kita tidak mau turut menjadikannya kenyataan.

Target itu perlu. Harapan-harapan itu juga penting dalam hidup. Supaya, kehidupan yang kita jalani memiliki arah yang benar-benar mampu membawa kita sampai ketujuan yang kita impikan. Tetapi, satu hal yang perlu kita ketahui, membuat harapan tidak perlu menunggu waktu yang baru, seperti tanggal, bulan, ataupun tahun. Karena, setiap hari adalah sama. Bercita-citalah menjadi baik, kapanpun! Karena, menjadi yang baik tidak merugikan kehidupan kita.

Selamat November!

Selamat tanggal 1!

Semoga kita senantiasa berbahagia!

Nb : hanya berusaha membangkitkan kembali hasrat menulis yang telah lama bersembunyi.

 

I miss every little things.

Rindu..

Satu kata yang mampu membuatmu memiliki banyak rasa yang terkadang sulit untuk dijelaskan, apalagi jika merindukan sebuah hal yang sulit untuk kamu genggam kembali

Rindu..

Kata ini juga bisa menyihir perasaan dalam beberapa detik, seketika bahagia lalu sedetik kemudian sedih sejadi-jadinya.

Saya merindukan semua hal yang telah terjadi dalam hidup saya.

Seperti saya pernah menjadi anak kecil yang waktu bermainnya lebih banyak dibandingkan sekarang, merasakan omelan ibu ketika sulit untuk tidur siang, bangun pagi, makan siang, dan pulang dari bermain bersama teman-teman, juga merindukan masa-masa duduk dibangku sekolah dasar, menjadi anak kecil yang terlalu banyak ingin tahu, bertengkar dengan teman sebangku yang sedetik kemudian bisa baikan lagi. Rindu masa sekolah menengah pertama, dimana disana pertama kalinya jatuh cinta dengan seseorang, pertama kalinya memberi hati, pertama kalinya menangis sejadi-jadinya ketika dia akan pergi. Juga, semangat yang menggebu-gebu dalam mengikuti setiap kegiatan, tidak merasa takut gagal, waktu dimana belajar sangat terjadwal dengan baik. Lalu, masuk ke masa sekolah menengah ke atas, masa dimana pemikiran mulai berubah, rasa takut mulai tumbuh, dan untuk pertama kalinya tidak peduli dengan tugas-tugas. Masa dimana jatuh cinta kembali dalam waktu yang cukup lama, walaupun kembali patah hati. Patah hati yang bahkan jauh lebih sakit ketimbang masa sekolah menengah pertama.

Sekarang tidak terasa, saya sudah berada di semester lima. Dan telah meninggalkan masa-masa itu. Rasanya, seperti ingin mengulang waktu, tapi di sisi lain tetap ingin bergerak maju. Dan cepat atau lambat, saya bahkan bakalan berada di penghujung waktu tanpa disadari. Telah banyak waktu yang lewat, dan satu persatu mulai meninggalkan.

Saya tidak pernah ingin tumbuh, hanya karena takut kehilangan orang-orang yang sangat saya sayangi. Walaupun saya tahu, itu hal teregois yang saya mimpikan. Ketika pertama kalinya ibu pulang ke surga, saya takut untuk kehilangan-kehilangan yang lainnya. Walaupun saya mengerti, saya harus tetap merasa baik-baik saja dan membuat beliau bangga. Karena saya percaya, beliau tetap mengawasi saya dari dunia yang berbeda.

Saya rindu, untuk semua rasa yang pernah ada.

Baik kebahagiaan, maupun sesuatu yang begitu menyakitkan.

Saya rindu kenangan.

Saya rindu masa lalu.

Dan orang-orang yang pernah melibatkan dirinya dalam hidup saya.

Karena, dengan itu semua, saya percaya kita mampu menjadi yang sekarang.

Meskipun ada yang memaksa saya untuk melupakan, percayalah setiap hal yang lalu masih kita kemas dengan baik di dalam hati kita walaupun tidak akan kita buka kembali.